Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakan tahun 2020. Tahun dimana semua impian anak sekolah seusiaku dikabulkan, ya, libur panjang. Tapi sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Yang kami tahu, kami hanya sedang diberi jeda untuk belajar dari rumah. Tapi nyatanya 9 bulan sudah kami belajar dari rumah. Yang kami tahu, kami hanya beruntung diberi libur lebih lama. Tapi dibalik itu semua banyak sekali ujian yang tidak pernah aku dan anak-anak seusiaku bayangkan sebelumnya. Aku, Arunika, siswi kelas 8 di sebuah SMP swasta, Bogor.
Sore itu, seperti biasa aku mengerjakan tugas di teras depan rumah. Semua berjalan lancar, hingga tiba-tiba hpku mati. Aku tidak tahu kenapa, mungkin hp-ku terlalu bebal dengan aplikasi dan data-data pelajaran. Kesal bukan main rasanya, ingin sekali aku membantingnya. Ini bukan kali pertamanya hp ku mati, aku sudah dua kali ganti hp. Yaah, walaupun barang bekas. Karena hanya itu yang mampu ayah belikan. Aku tidak pernah menolak pemberiannya, aku mencoba menghargai jerih payah ayahku. Tapi kali ini aku benar-benar kesal, tugas yang sudah susah payah aku kerjakan musnah bersama hp rongsokan itu.
"Kau kenapa, run?" Tanya ayah yang baru pulang kerja.
"Arun kesel, yah. Masa hp Arun mati lagi?" Jawabku.
"Lho tadi pagi bukannya masih bisa dipakai?"
"Ngga tau, tiba-tiba tadi mati sendiri." Jawabku masih kesal.
"Hmm." Dengus ayah terlihat kecewa.
Ayah mencoba membolak-balikkan hp rongsokan itu, berusaha menghidupkannya lagi. Berkali-kali ia mencoba memperbaikinya dan berkali-kali pula ia gagal. Aku mulai memijat punggung ayah yang bersender ke kursi dan mencoba bernegosiasi dengan cara ini.
"Yah, Arun minta dibelikan hp lagi boleh ? Boleh ya, pliss? Tapi yang baru dong yah, jangan kaya yang udah-udah. Satu Minggu dipake, langsung mati." Tanyaku memelas.
"Sabar ya, run. Ayah belum punya cukup uang." Jawabnya.
"Tapi pelajaran dan tugas-tugas Arun gimana yah?"
Ayahku terdiam cukup lama, memikirkan bagaimana solusinya.
"Yahh.. ayah ngelamun ya? Jadi gimana yahh, tugasku menunggu. Aku butuh hp buat semua itu. Beliin aku hp baru dong yah, yang beneran baru lohya." Pintaku memaksa.
"Sabar, run, sabar. Lagi ayah usahain kok."
" Tapi aku butuhnya sekarang, yaah!"
" Arun, ayah capek! Kamu jangan bikin ayah pusing!"
" Tuh, ayah ma sekarang sayang ke Arun setengah-setengah. Huh! Nasib di beliin hp rongsokan mah gini."
Tanpa sengaja, terlepas dari mulutku kata-kata yang kurang mengenakkan itu. Tiba-tiba saja raut muka ayahku berubah. Ayah marah sekali padaku, ia begitu kecewa dengan kata-kata ku. Aku yakin, ayah pasti merasa kerja kerasnya tidak dihargai. 'Duh.. gawat' batinku berbicara.
"Kamu tu sejak ibu ngga ada, makin bandel, makin susah dibilangin, udah lupa ya cara menghargai orangtua?"
Aku diam saja menyesali bicaraku.
"Kamu denger ngga ayah ngomong apa?!"
" Ya udah kalo gitu, mending Arun berenti sekolah aja ya, yah. Biar ayah ngga pusing mikirin sekolah Arun." Jawabku mencoba memberikan solusi.
" Eee... Ini anak di bilangin malah makin ngelunjak. Emangnya kalo kamu ngga sekolah, kamu mau ngapain?"
" Cari kerja lah, biar bisa beli hp sendiri. Hp baru bukan rongsokan lagi." Mati aku kenapa lagi harus kata-kata itu yang keluar, sesalku.
" Arun!"
Setelah sore itu, aku benar-benar mogok sekolah. Bahkan aku berniat untuk benar-benar berhenti sekolah. Aku mencoba berjualan koran di perempatan lampu merah. Aku baru tahu ternyata berjualan koran sangat sedikit untungnya. Tapi aku pantang menyerah, aku berusaha tetap pada pendirianku untuk mencari uang. Tiba-tiba saja seorang bapak menarik lenganku. Aku tidak sadar, ternyata itu ayahku.
"Arun, ayo pulang. Ini bukan tugasmu, tugas kamu belajar, run. Ayo pulang." Bujuk ayah lembut.
"Ngga mau, ayah ngga sayang sama Arun! Arun mau cari uang aja." Jawabku keras kepala.
"Ya udah, kalo kamu ngga pulang. Ayah mau jalan-jalan, kamu mau ikut?"
"Mau, yah" tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan. Padahal aku ngotot ngga mau pulang. 'Ya ampun Arun', batinku. Aku tidak pernah bisa menolak ajakan untuk jalan-jalan, apalagi ayah yang ngajak.
"Kita mau kemana, yah?" Tanyaku
"Kita mau cuci mata, siapa tau bisa lebih fresh pikiran kita." Jawab ayah.
"Yeey.." seru ku kegirangan.
Sudah lama sejak ibu meninggal ayah tidak pernah mengajakku tamasya, atau setidaknya keliling kota. Ayah lebih sering terlihat murung, meskipun berlagak sok kuat di depan ku. Tapi aku tahu, ayah menyimpan kesedihan yang begitu dalam.
Pagi itu kami naik angkot, menuju pusat kota. Kami tau situasinya berbeda, jadi tak lupa selalu pakai masker kemanapun perginya. Aku kira ayah bakal ajak aku ke pusat perbelanjaan atau setidaknya makan di restoran. Ternyata aku salah, kami menuju sebuah perkampungan kumuh dipusat ibu kota.
"Yah, kenapa kesini?" Aku kebingungan.
"Jalan-jalan, kan?"
"Tapi disini kotor, yah" protesku dan ayah hanya tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutku.
Kami berjalan mengelilingi perkampungan tersebut, ayah tidak banyak bicara, hanya mengingatkanku untuk mengawasi mereka. Aku takut sekali waktu itu, ku perhatikan setiap inci dan setiap orang yang kutemui. Kami terus berjalan hingga melewati sebuah panti asuhan dan menemukan halte bus. Disana kami duduk sejenak untuk beristirahat.
"Arunika, tadi apa saja yang kamu liat?" Tanya ayah.
"Banyak yah, ada pengemis, pengamen, bapak-bapak main catur, di panti asuhan ada anak-anak yang tidak bersekolah, banyak." Jawabku.
"Sekarang kamu liat pertokoan disekitar sini."
"Kenapa, yah? Kok banyak yang tutup ya?"
"Iyaa, pinter anak ayah." Puji ayah padaku.
"Mereka juga sedang diuji sama seperti kita. Toko-toko yang tutup, penjualnya pasti kalang kabut kaya ayah. Pengamen, pengemis, bapak-bapak tadi mungkin salah satu orang yang kehilangan pekerjaan lamanya. Anak-anak di panti tadi, mereka juga kurang beruntung tidak bisa melanjutkan sekolah, mungkin mereka juga kehilangan ayah atau ibu karena virus ini. Sama seperti kita kehilangan ibu 3 bulan yang lalu. Kamu sadar ngga, kalender 2020 itu cuma ada 4 bulan, lho."
"Lho kok bisa yah?"
"Coba hitung dari awal bulan, Januari, Pebruari, Pandemi, eh tau-tau udah Desember, ya ngga?" Canda ayah.
"Haha, ah ayah bisa aja. Tapi bener juga ya, ngga kerasa udah bulan Desember aja." Jawabku mengiyakan candaan ayah.
"Iya, waktu cepat berlalu. Makanya kita ngga boleh sia-siain waktu kita. Berjuang sekuat tenaga, semaksimal yang kita bisa. Jangan jadikan keterbatasan menjadi alasan untuk gagal. Orang sukses tidak butuh alasan." Kata ayah.
"Iya ya, yah. Ternyata hidup itu misteri yang melelahkan."
"Hidup memang tempatnya berjuang, sudah pasti melelahkan, Run. Makanya kamu yang semangat. Walaupun pandemi kaya gini, kamu ngga boleh nyerah sama keadaan. Kamu harus jadi orang yang lebih sukses dari ayahmu. Ayah akan usaha semaksimal mungkin buat kamu." Ayah menatapku dengan yakin.
" Ayah, maafin Arun. Arun janji ngga bakal ngulangin kesalahan Arun lagi. Arun bakal lebih semangat buat belajar, maafin Arun ya, yah." Airmataku berguguran dipelukan ayah, Aku benar-benar menyesal telah mengecewakan ayah.
"Kalender 2020, 4 bulan ini ngga bakal Arun lupain. Virus ini udah misahin kita dari ibu. Arun bakal inget semua kepahitan yang Arun alami, Arun akan terus melangkah apapun yang terjadi, yah. Doain Arun." Aku makin erat memeluk ayah.
"Nah ini Arunika ayah, pasti ayah doain. Jangan lupa juga, perjuangan yang harus diutamakan sekarang adalah rajin cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, pakai masker, dan jaga kesehatan. Ayah ngga mau kehilangan orang yang paling ayah sayangi lagi."
" Iya, yah"
Sepulang dari jalan-jalan itu, aku merasa ada ledakan semangat di hatiku. Aku sangat bahagia dan beruntung memiliki ayah yang selalu mendukung dan menguatkan ku. Tahun 2020 memang tahun yang benar-benar menguatkan setiap manusia, dengan segala baik buruknya. Kalender 2020 memang tidak akan terlupakan oleh siapapun. Semangat, semangat, semangat.